Dari Solidaritas ke Formalitas: Transformasi PGRI Dipertanyakan
1. Solidaritas yang Menguap di Tengah Hierarki
-
Mekanisme "Surat-Menyurat": Urusan perlindungan guru kini sering terjebak dalam prosedur administratif yang kaku. Solidaritas yang seharusnya bersifat spontan dan kuat, kini harus melewati filter hierarki dari Ranting hingga Pusat yang memakan waktu lama.
2. Terjebak dalam Ritual Seremonial
Gejala paling nyata dari pergeseran menuju formalitas adalah dominasi kegiatan yang bersifat simbolis daripada substansial.
-
Panggung Orasi vs Aksi Lapangan: Kongres atau peringatan hari besar sering kali menjadi ajang unjuk kekuatan protokoler dengan pidato-pidato normatif. Sementara itu, masalah riil seperti beban aplikasi e-Kinerja yang mencekik atau kriminalisasi guru di daerah terpencil sering kali tidak mendapatkan porsi pembahasan teknis yang mendalam.
-
Budaya Seragam dan Protokol: Fokus organisasi terkadang lebih besar pada keseragaman atribut dan kehadiran fisik dalam upacara, daripada pada efektivitas advokasi kebijakan yang berdampak langsung pada kesejahteraan mental guru.
3. Krisis Militansi di Akar Rumput
Ketika organisasi bergerak terlalu formal, militansi anggotanya cenderung menurun.
-
Apatisme Guru Muda: Guru-guru generasi baru yang lebih menyukai efektivitas dan transparansi digital merasa terasing dengan gaya formalitas PGRI. Mereka lebih memilih membangun "solidaritas organik" di grup-grup Telegram atau komunitas belajar mandiri yang dianggap lebih solutif.
-
Kewajiban vs Kesadaran: Banyak guru tetap menjadi anggota PGRI hanya karena tuntutan administratif kepegawaian, bukan karena kesadaran bahwa mereka membutuhkan wadah perjuangan. Ini adalah sinyal bahaya bagi keberlanjutan sebuah organisasi profesi.
4. Menghidupkan Kembali Marwah Perjuangan
Untuk mengembalikan solidaritas sebagai napas utama, PGRI harus berani melakukan de-birokratisasi:
-
Personalisasi Layanan: Organisasi harus hadir secara nyata dalam krisis personal guru. Bantuan hukum atau dukungan finansial darurat harus bisa diakses dengan cepat tanpa terhalang tembok formalitas.
-
Transformasi Budaya Komunikasi: Mengurangi seremoni dan memperbanyak ruang dialog terbuka (town hall meeting) yang melintasi sekat senioritas, di mana suara guru honorer terdengar sekeras suara pengurus pusat.
-
Advokasi Berbasis Isu Riil: Mengalihkan energi dari sekadar seremoni ke arah riset dan lobi kebijakan yang mampu memangkas beban administratif guru secara permanen.
Kesimpulan
Transformasi dari solidaritas ke formalitas adalah ancaman bagi setiap organisasi besar. Jika PGRI hanya bertahan sebagai lembaga formal yang kaku, ia akan kehilangan "ruh" yang dahulu membuatnya disegani. PGRI tidak boleh hanya menjadi gedung megah yang kosong dari kehangatan persaudaraan. Ia harus kembali menjadi "rumah perjuangan" di mana setiap guru merasa dilindungi, didengar, dan dihargai bukan karena kartu anggotanya, melainkan karena martabatnya sebagai pendidik.